February 29th, 2016

Putting faith in trust

ONE of the problems we face in our current lives is being able to function and live coherently and with a modicum of sanity in a world and environment that is increasingly complex.

The sheer increase in complexity in our lives is everywhere to be seen. From the increasingly complicated nature of the economy all the way through to the increasingly complex administrative and bureaucratic environment that we all deal with day to day in so many often frustrating ways.

The world seems increasingly intricate and this increase in complexity generates doubts and anxiety in regards to our understandings of what is going on around us.

One mechanism for helping us through complexity and to simplify how we decide on what to do exists in our ability to trust.

Trust helps us make decision quickly without having to think too much about something.


Trust reduces complexity, enables us to make decisions quickly without having to think through every single angle or grasp every single aspect of an issue.

Trust helps to reduce complexity in our lives and is a necessary contribution to ensuring that in life we can be effective and lead productive and useful lives.

Why is this so? If we refer to the work of Niklas Luhmann (Familiarity, Confidence, Trust: Problems and Alternatives), we can see that trust is an important mechanism that allows us to not have to second guess everything we do and be able to make decisions effectively, and in a timely manner rather than forever doubting ourselves or others.

By having trust, we increase our ability to act “because trust is an effective form of complexity reduction”.

Historically, our notion of trust has been grounded in the familiarity of the social world around us. Brought up in a small village or town, our surrounds, the people, the conventions and manners were all familiar to us.

Trust in such an environment did not really entail much significant risk. The social world we lived in was familiar, predictable and stable.

Furthermore, in such an environment, our sense of self-confidence in our decisions is generally higher. We are confident of our environment and the people in it in large measure due to familiarity and closeness.

Societies with a strong “face-to face” dimension are societies where we experience a sense of familiarity with each other and we experience self-confidence in what we know and in the social world we live.

Modern society with its increasing acceleration of economic, cultural and social change, and rapidity of technological transformation is more abstract to us and more difficult to grasp. In a world that is increasingly unfamiliar, less face-to-face, the common basis of trust — which is rooted in the familiar — is increasingly challenged.

There is more of a sense of risk involved in our decisions since we can no longer necessarily assume a shared understanding of the nature of our world, which for all intents and purposes, rests on a sense of familiarity and continuity.

When familiarity and self-confidence are diminished then the world is increasingly characterised as a world of risk: we live in what Ulrich Beck calls a “Risk Society” (Risk Society: Towards a New Modernity). In regards to familiarity with our social world, Luhmann points out that “changes may occur in the familiar features of the world which will have an impact on the possibility of developing trust in human relations”.

However, the very fact of living in a world that is increasingly unfamiliar and complex increases our sense of risk and means that trust becomes all the more important, indeed critical. It is this challenge that characterises a vital problem for us.

How do we develop and encourage trust between ourselves and other social groups, let along trust between citizens and the key institutions of a society when our societies are increasingly complex and when social, economic and cultural change and the breakdown of traditional manners and conventions are more and more ubiquitous. In such a rapidly changing and complex society, we must rely on our confidence in each other despite our commonly experienced unmooring from each other.

Such confidence in each other is always a risk but as Luhmann argues, without risking trusting each other, we will increasingly find ourselves in “the vicious circle of not risking trust, losing possibilities of rational action, losing confidence in the system, and so on being that much less prepared to risk trust at all”. It is at this final point on the argument that we can suggest that one institution that can help people clarify and make sense of social complexity in a safe and stable environment is the school.

The school provides through its day-to-day practices a sense of familiarity to its members. In its educational practices, the school can develop, from the safety of this familiarity, habits of reflective thinking among students grounded in strong moral norms.

This ability to reflect and think grounded in strong moral norms can provide the basis of an ability to trust in a complex world that is unfamiliar and constantly changing.

Given the problems of contemporary society with its incessant change, individualisation of moral norms and consequent diminishing of trust, the role that the school can play in instilling basic moral dispositions and reflective practices into the young may be one of our last institutional chances to address what is, otherwise, a seemingly problematic slide into distrust, and breakdown in social cohesion and moral direction.

Ungka, Hanuman dan perikehaiwanan

Memetik makna
Baru-baru ini saya mendapat e-mel daripada pem­baca, seorang pegawai tinggi kerajaan yang tinggal di Persint 10 Putrajaya. Beliau mendakwa ada mengikuti tulisan saya dalam kolum Anekdot Ahad sebelum ini. Dalam e-mel yang ringkas itu beliau mencatat, “Tuan, tulislah ben­da yang bagi manfaat kepada akal asalkan jangan politik sebab kami sudah penat. Tulis kisah haiwan pun tak apa.”

Saya mendapat satu tugasan (assigment) yang sukar. Tak­kan hendak tulis kisah sang kancil dengan buaya atau arnab dengan kura-kura. Cerita itu semua orang sudah tahu. Mujur saya teringat kepada kertas kerja Inon Saharuddin (1983), Tradisi Lisan Alor Gajah: Satu Perbicaraan Ringkas. Saya pernah baca kertas kerja itu. Inon memperkatakan tentang cerita rakyat Ungka Siamang yang dikembangkan daripada generasi kepada generasi secara lisan.

Dalam cerita Ungka Siamang yang dikumpul oleh Inon ini, kisah di sebuah desa ada sepasang teruna dan dara, Puteri Jeklan dan Malim Bungsu. Malim Bungsu terpaksa pergi merantau meninggalkan Puteri Jeklan. Puteri Jeklan meyakinkan Malim Bungsu, biarlah alir sungai yang ber­ubah tetapi bukan hatinya. Maka Puteri Jeklan pun ber­sumpah kalau dia mungkir janji, dia akan bertukar menjadi ungka siamang.

Kebetulan sepeninggalan Malim Bungsu, Puteri Jeklan dipaksa kahwin dengan orang lain. Ketika membuat persiapan majlis perkahwinan, Puteri Jeklan melompat keluar dari rumah dan bergayut dari dahan ke dahan hingga hi­lang ke dalam hutan. Dia sudah menjadi ungka siamang. Masa bergayut di atas pokok di tepi laut dengan deraian air mata Puteri Jeklan menyanyi:

Berubah tanamlah padi

dah nak tuai, 
nan bunga lalang

berubah padahnya kami

kami menjadi ungka siamang.

Kerana tragisnya kisah si da­ra yang terpaksa menjadi ung­­ka siamang, saya pun meme­­nuhi permintaan pem­baca tadi untuk menulis tentang ungka. Ungka (gibbon dalam bahasa Inggeris) atau nama saintifiknya Hylobatidae adalah sejenis hai­wan yang dilindungi kerana se­makin pupus. Walaupun se­cara kasar­nya ungka disangka mo­nyet teta­pi bukan monyet. Ungka ada­lah daripada keluarga ma­was dan ini termasuklah cimpanzi dan orang utan. Ung­ka banyak ter­dapat di Asia terutama Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Ungka pula terbahagi ke­pa­­da empat jenis iaitu Hylo­bates, Hoolock, Nomascus dan Symphalangus. Bagai­ma­napun jenis ungka yang terdapat di negara ini ialah Symphalangus dan Hylobates. Walaupun tidak pernah men­dapat pendidikan dalam bidang zoologi, tetapi saya ge­mar memerhati, membaca dan makna tentang tabiat haiwan sejak kecil semasa mengikut ayah ke hutan untuk mencari rebung.

Saya juga berminat dengan ungka kerana sejak kecil ter­dedah dengan epik Ramayama. Ayah selalu bercerita tentang kegagahan dan kesaktian kera putih bernama Ha­numan dalam Ramayana yang sudah disesuaikan da­lam budaya Melayu. Malah Hanuman juga menjadi watak wa­jib dalam permainan wayang kulit tradisional di kampung saya.

Dalam konteks sekarang, Hanuman adalah robot Tranfor­mers yang meresap dalam pemikiran kanak-ka­nak. Kuasa sihirnya luar biasa. Apabila ternampak ung­ka melompat dari dahan ke dahan di hutan, ayah memberitahu itulah suku sakat Hanuman dalam Ramayana. Tetapi kata ayah, haiwan itu sudah tidak ada kuasa sakti macam Hanuman yang me­nyelamatkan Sita Dewi.

Kerana tidak ada kuasa sakti, maka ada ungka yang men­­jadi mangsa ditembak oleh manusia kerana memakan buah-buahan di dusun. Saya bertanya ayah, kenapa Ha­nu­man tidak datang me­nyelamatkan ungka daripada undang-undang manusia yang zalim? Kata ayah, ini bukan zaman Hanuman. Kalau ada Hanuman pun sudah tidak ada kuasa sakti. Sudah luput tarikh.

Walaupun saya tidak pasti benarkah Hanuman itu suku sakat ungka tetapi gelagat haiwan itu sendiri sangat mencuitkan hati. Ada sifat kasih sayang kepada anak-anak dan sanggup mempertahankan daripada sebarang an­ca­man. Ini bertentangan dengan sesetengah manusia yang diberi akal lebih tinggi malangnya kerap membuang anak sendiri.

Daripada kajian saya, ungka mengamalkan monogami ia­­itu mempunyai satu pasangan sahaja. Ungka bukan ma­cam ayam jantan yang membolot berbelas-belas “isteri”, ber­­kokok berderai-derai walaupun ekor bergelumang najis. De­ngar kokoknya macam tidak percaya ekor bergelumang najis. Sosialisasi ungka mirip manusia, dalam kelompoknya ada anak-beranak, anak saudara dan bapa saudara. Yang menariknya ungka jantan akan tolong ungka betina menjaga anak. Kalau ada manusia jantan yang lupa anak isteri selepas menjadi kaya, malulah sikit dengan ungka jantan.

Sebab itulah saya tidak setuju dengan sesetengah orang yang cepat sangat berkata, “Perangai buruk macam haiwan.” Manusia berkata demikian kerana sesetengah mereka memang suka memperkecilkan pihak lain. Jadi, mereka pun memperkecilkan haiwan yang tidak ada kuasa memprotes.

Ungka betina mencurahkan sepenuh kasih sayang kepada anak yang dikendung ke mana-mana sahaja. Malah akan mempertahankan anaknya daripada segala macam ancaman. Saya tidak tahu hendak mengistilahkan ini sebagai apa? Adakah “perihaiwanan” atau “perikemanusiaan?”

Mengikut kajian, ungka adalah jenis haiwan bersosial, berkeluarga serta mempunyai jajahan takluknya sendiri. Ca­ra ungka menunjukkan sesebuah kawasan jajahan tak­luknya adalah dengan menggunakan teriakan yang bo­leh didengar sejauh satu kilometer. Ungka lain yang men­ce­roboh akan menerima padah. Kecualilah diadakan “per­sempadanan semula” kerana hutan semakin kecil akibat di­rembat oleh manusia yang dapat konsesi balak.

Cuma satu sahaja sifat buruk ungka iaitu apabila jumpa dahan yang patah, pakat ramai-ramai mengenjut dahan yang patah itu sampai jatuh ke bumi. Ungka suka membuli ahli kumpulannya yang tidak berdaya dengan cara beramai-ramai menggoyangkan dahan hingga rakannya terjatuh. Apabila jatuh masing-masing ketawa terkekeh-kekeh se­o­lah-olah merayakan kemenangan. Barangkali ungka tidak tahu dalam merayakan kemenangan, mereka juga akan hilang apabila habitat diceroboh dengan rakus atas nama pembangunan. - Ku Seman Ku Hussain Utusan Malaysia Rencana 28 Februari 2016 6:24PM

Panduan untuk dapat perhatian media

TING! TING!... Notis pada telefon pintar memberitahu ada e-mel masuk. Buka. Kenyataan akhbar. Baca. Jam ketika itu 9.20 malam. Abaikan. Esok, wakil dari organisasi yang menghantar e-mel bertanya mengapa tidak disiar kenyataan yang dikirimnya.

Dalam era di mana setiap orang yang memiliki akaun Facebook beriya-iya mahu menjadi wartawan (yang diklasifikasi sebagai wartawan jelmaan), wujud cabaran bagi pengamal media untuk menentukan kesahihan sesuatu berita dan paling penting, faktor `mencengkam’ atau tidak nilai berita. Istilah `mencengkam’ secara umumnya bermaksud berita yang diyakini akan memberi impak kepada sasaran pembaca, bukan sensasi semata-mata.

Tidak semestinya kenyataan media yang dikirim, pasti disiar oleh media massa arus perdana. Mungkin disebabkan faktor kandungan, faktor ruang untuk selitkan berita dan faktor masa iaitu halaman sudah disiapkan. Melainkan jika ia benar-benar menggegarkan seperti penangkapan, pemecatan dan pengharaman.

Kegagalan tersiarnya sesuatu berita itu, mungkin juga disebabkan faktor-faktor lain. Hal ini seseorang wakil organisasi seperti agensi perhubungan awam (PR) profesional atau unit komunikasi korporat (UKK) dalaman hendaklah peka tentang perubahan dalam tata kerja sesebuah editorial media.

Berikut adalah 10 panduan bagi mendapatkan perhatian media:

High & Mighty

Secara umumnya, wartawan yang waras tahu betapa pentingnya menjalin hubungan baik dengan `orang tengah’ iaitu agensi PR, UKK dan pegawai khusus menjaga hubungan media. Begitu juga sebaliknya. Amat tidak waras meletakkan individu yang ada sifat `High & Mighty’ menjaga media kerana pegawai sebegini tidak ada sentuhan peribadi atau keikhlasan untuk berhubung terus dengan media, sebaliknya sekadar memaksa orang bawahan pula menghubungi wartawan. Dan pegawai ini hanya muncul bila ada VIP. Sekadar tunjuk dia bekerja dan `penting’ semata-mata.

Berkenalan dengan media

Saban hari, media menerima purata 80 ke 100 kenyataan media yang dihantar menerusi e-mel dan faksimili (ya, masih ada mesin purba ini!) dan jemputan ke majlis antara 40-50. Memiliki persahabatan dengan media memberi anda kelebihan untuk dipilih, berbanding yang tidak dikenali dan yang langsung tidak ada rancangan hendak berkenalan.

Elak konfrontasi dengan media

Atas sebab-sebab tertentu, berlaku salah faham. Carilah jalan penyelesaian aman. Ini kerana pergeseran berpanjangan tidak memberi manfaat kepada sesiapa. Jadilah profesional. Benar, ada segelintir wartawan juga bersikap `super diva’ yang mahu tangannya dicium bagi memastikan berita disiarkan. Jika anda berdepan dengan wartawan sebegini, sila buat laporan rasmi kepada organisasi media terbabit. Jika anda biarkan keadaan sebegini, ia hanya menambah buruk hubungan jangka panjang.

Guna Facebook dengan bijak

Contoh: Seorang PR sering memohon dihantar wartawan ke majlis sidang media organisasinya. Pada masa yang sama, dalam posting Facebook peribadinya dia menghentam akhbar wartawan terbabit. Memang Facebook itu akaun peribadi tetapi ia menjadi umum kerana dibaca ramai wakil media lain. Apakah dia memanggil wartawan hanya kerana mematuhi arahan bos tetapi dalam hatinya amat membenci akhbar itu? Bila benda ini terbongkar, siapa yang malu?

Ketahui Deadline

Organisasi media arus perdana secara umumnya memiliki deadline yang hampir serupa kecuali media elektronik iaitu 6 petang. Jadi, pastikan kenyataan media sampai kepada organisasi media sebelum 6 petang. Sebenarnya, lagi awal lagi bagus. Peluang untuk tersiar mengecil mengikut kelewatan teks diterima.

Buat sidang media waktu pagi

Pengamal media tahu bahawa mengadakan sidang media di sebelah pagi akan mendapat liputan berganda, berbanding selepas 2 petang. Ini kerana acara pagi, akan sempat disiar slot berita tv pada tengahari.

Sediakan teks kenyataan mengikut bahasa akhbar

Bahasa Inggeris diguna meluas. Syarikat milik Melayu 100% pun ada yang lemah menyediakan teks berbahasa Malaysia. Memang wartawan dilatih untuk menjadi dwibahasa tetapi jika sesebuah organisasi menyediakan teks bahasa yang tepat, ia akan banyak membantu meringankan beban tugas wartawan yang menerima puluhan kenyataan akhbar setiap hari. Dan tentunya, menambah peratusan pemilihan.

Mengiklan

Dalam keadaan ekonomi semasa, ramai akan menyatakan bajet pengiklanan mereka dipotong. Bayangkan media menjawab balik kepada anda: ``kalau begitu berita awak pun kami potong’’. Langkah mengiklan, walaupun dengan bajet rendah berbanding tahun lalu adalah lebih baik daripada tiada langsung. Malah ia memberi kelebihan besar kerana media akan menyokong syarikat yang menyokong mereka daripada aspek pengiklanan.

Peka kepada acara semasa

Ada syarikat yang tidak peduli kepada acara semasa seperti pembentangan bajet dan sebagainya, yang menjamin halaman akhbar akan dipenuhi dengan berita berkaitan. Bila ini berlaku, apakah ada ruang untuk berita anda?

Jangan tawarkan pemanis

Samalah dengan hakikat ekonomi negara sekarang, memang semua merasai keperitan perbelanjaan hidup. Namun, ini tidak menjadi alasan untuk wartawan meminta pemanis, upah atau rasuah daripada orang yang diwawancara, dan janganlah menawarkan apa-apa bentuk pemanis kepada wartawan demi memastikan berita disiarkan. Jika berita itu ada news value dan elemen `mencengkam’ tentulah disiarkan. - Johardy Ibrahim Utusan Malaysia Rencana Merrepak28 Februari 2016 6:27 PM

Fahami maksud Saya Yang Menurut Perintah

SYMP atau Saya Yang Menurut Perintah adalah sinonim dengan dunia perkhidmatan awam. Maka, saya ingin mengajak pembaca semua mengenal dan merenung sejenak frasa SYMP yang adalah raison d’etre kepada penjawat awam.

Saya ingin memetik kata-kata Tun Mohamed Suffian Mohamed Hashim, bekas Ketua Hakim Negara yang tersohor, seperti yang dirakamkan dalam kes Kerajaan Malaysia lawan Rosalind Oh Lee Pek Inn pada 1973 yang menyatakan seperti berikut:

“It is true that the origin of Government service is contractual. There is an offer and acceptance in every case. But once appointed to his post or office, the Government servant acquires a status and his rights and obligations, are no longer determined by consent of both parties, but by statute or statutory rules, which may be framed and altered unilaterally by Government... the hall-mark of status, is the attachment to a legal relationship of rights, and duties imposed by the public law, and not by mere agreement of the parties”.

Prinsip ini diraikan oleh Mahkamah Persekutuan dalam kes Rajion Sulaiman lawan Kerajaan Negeri Kelantan pada 1975, di mana saya suka memetik kata-kata Almarhum Sultan Azlan Muhibbudin Shah semasa baginda menjadi Hakim Mahkamah Persekutuan seperti berikut:

“The argument that Government, cannot unilaterally amend the conditions of service of a person, in the public service of a State by administrative rules and regulations overlooks and negatives the tenure at pleasure laid down in Art 132(2A) of the Constitution. In my view, the rules and regulations relating to the public services under the Constitution are directory, liable to be changed to suit the public policy of the State”.

Kes yang saya petik ini penting kerana amat relevan dengan perihal Saya Yang Menurut Perintah dalam perkhidmatan awam. Dalam hal ini, apa yang diharapkan kerajaan bukan ketaatan yang membuta tuli sehingga penjawat awam bekerja tanpa berfikir. Jika prinsip ini disalahfaham, maka akan terbantutlah kreativiti dan inovasi dalam kalangan penjawat awam.

Pada masa kini, kita pula berhadapan dengan liku-liku yang penuh cabaran di mana kadang-kala kita barangkali terlupa tentang asas-asas dan fundamental yang mendasari tugasan kita seharian khususnya yang termaktub dalam Rukun Negara di bawah frasa ‘Keluhuran Perlembagaan’

Dalam konteks perkhidmatan awam, nilai-nilai kebersamaan de­­ngan kerajaan, berkeupayaan menterjemahkan dasar-dasar kerajaan dan meningkatkan penyampaian perkhidmatan awam berasaskan pembudayaan nilai integriti dan patriotisme adalah penting. Hal ini kerana penjawat awam bertanggungjawab sepanjang masa untuk melindungi kepentingan kerajaan.

Sehubungan itu, dalam konteks Saya Yang Menurut Perintah, frasa ini menuntut penjawat awam untuk sentiasa mengakui bahawa sebarang perkataan dan tindakan mereka haruslah tertakluk kepada peraturan-peraturan yang ditetapkan Yang di-Pertuan Agong di bawah Perkara 132 Perlembagaan Persekutuan dan apa-apa Pekeliling Perkhidmatan yang dikeluarkan oleh kerajaan dari semasa ke semasa.

Ungkapan Saya Yang Menurut Perintah ini tidak sekali-kali sama dengan ungkapan ‘Yes! Bos!’, melainkan dalam ruang lingkup kepatuhan kepada semua peraturan-peraturan yang telah mengikat perkhidmatan seseorang pegawai awam itu.

Semasa di awal penjawat awam menyertai perkhidmatan, mereka sudah pun mengangkat sumpah. Maka, mereka diingatkan untuk tidak bermain-main dengan sum­pah. Sebab tanggungjawab menjaga rahsia kerajaan itu adalah untuk kebaikan negara kita.

Saya mengajak semua penjawat awam untuk melihat lebih jelas perkara-perkara dalam Perintah-perintah Am Bahagian II (Kelakuan) iaitu di bawah Peraturan 4(1), Peraturan-peraturan Pegawai Awam (Kelakuan dan Tatatertib) 1993 yang menyebut seseorang pegawai hendaklah pada setiap masa memberikan taat setia yang tidak berbelah bahagi kepada Yang di-Pertuan Agong, negara dan kerajaan. Kita sudah mengangkat sumpah kesetiaan, solidariti, amanah dan sebagainya. Oleh itu, adalah menjadi amanah dan tanggungjawab kita untuk menjaga rahsia kerajaan.

Sehubungan dengan semangat Perlembagaan yang kita dokong ini, kepatuhan kepada undang-undang negara khususnya yang berkaitan perkhidmatan awam menonjolkan nilai-nilai sebenar Saya Yang Menurut Perintah dalam kalangan penjawat awam.

Penekanan kepada aspek kepatuhan terhadap undang-undang dalam kalangan penjawat awam, dapat dilihat dalam Peraturan 4(2) Peraturan-peraturan Pegawai Awam (Kelakuan dan Tatatertib) 1993 yang melarang pegawai awam membelakangkan tugas awamnya demi kepentingan diri atau berkelakuan yang boleh membawa kepada kepentingan diri yang bercanggah dengan tugas awamnya, sehingga menjejaskan atau memburukkan nama baik perkhidmatan awam.

Oleh itu, perbuatan mengingkari perintah atau arahan dengan melakukan sesuatu perkara yang boleh ditafsirkan sebagai melanggar perintah atau undang-undang tidak boleh diterima dan dimaafkan sama sekali. Hasilnya, selepas 58 tahun negara mencapai kemerdekaan, Perlembagaan Negara kita masih kukuh dan utuh, ia bukti kesetiaan penjawat awam kepada negara.

Dalam hal menyentuh isu ke­tegasan dan kepatuhan yang jitu kepada semua aspek perundangan tersebut, sebagai pegawai awam kita juga tidak boleh lupa tanggungjawab kita untuk sentiasa bersopan santun dan berbudi bahasa seperti yang digagaskan dalam Rukun Negara ini. Ia adalah penerapan nilai-nilai penyayang, suka membantu, hormat- menghormati, bertolak ansur dan peramah kerana kita sentiasa berurusan secara langsung de­ngan pelanggan atau orang ramai.

Ini juga adalah antara intipati dalaman dalam memelihara etika profesionalisme yang bersifat berkecuali agar tidak berlaku masalah perpecahan, pertelingkahan dan konflik dalam melaksanakan tugas.

Dalam konteks penjawat awam dan media sosial pula, tidak dapat dinafikan keghairahan kita mendepani teknologi maklumat dan komunikasi yang berkembang pesat. Aplikasi Facebook dan WhatsApp, membawa kita untuk sentiasa tergoda bagi meluahkan dan melahirkan rasa hati dan pandangan terhadap sesuatu perkara.

Namun begitu, kita harus menggenggam hati dan akal kita untuk menahan godaan itu kerana sebagai anggota perkhidmatan awam di bawah Perkara 132, Perlembagaan Persekutuan, kita sentiasa tertakluk kepada semua Perintah Am dan Peraturan-Peraturan Pegawai Awam khususnya berkaitan kelakuan dan tatatertib tanpa sebarang pengecualian. Dalam hal ini, kita juga hendaklah mematuhi antara lain kepada larangan memberikan apa-apa penyataan umum untuk apa-apa tujuan seperti yang diperuntukkan dalam Peraturan 19, Peraturan-Peraturan Pegawai Awam (Kelakuan dan Tatatertib) 1993.

Jika tidak, kita bukan sahaja membocorkan rahsia kerajaan atau mendedahkan diri kita untuk diperalatkan, malah mewujudkan suatu bentuk provokasi dan debat yang tidak bijaksana dalam kalangan masyarakat yang sebegitu mudah percaya pada setiap perkataan kita atas merit kita sebagai pegawai awam yang sentiasa dilihat knows better what is inside the office. Budaya negatif ini perlu dielak. - Tan Sri Mohamad Zabidi Zainal Ketua Pengarah Perkhidmatan Awam Utusan Malaysia Rencana 29 Februari 2016 6:00 PM

Mewujudkan kepuasan dalam bekerja

DALAM dunia pekerjaan sejak dahulu hingga kini, sesete­ngah daripada kita asyik me­rungut tentang pelbagai perkara. Gaji yang tidak cukup, kerja yang terlalu banyak, rakan sekerja yang tidak ‘sebulu’, ketua yang hanya pandai mengarah ataupun suasana kerja yang tidak kondusif.

Itu sebabnya ada dalam kalangan kita yang cuba mencari ‘ketenang­an’ dengan kerap keluar minum semasa bekerja, melayari Internet berjam-jam lamanya, leka berborak dengan rakan sekerja atau sampai ke tahap ponteng kerja sehingga sanggup menunjukkan majikan surat cuti sakit palsu! Semua ini adalah indikator yang menunjukkan produktiviti kerja seseorang itu telah menurun kerana kepuasan kerjanya tidak dipenuhi.

Ini kemudiannya memberi kesan negatif terhadap perkembangan kariernya dan juga kemajuan organisasi. Pekerja yang menunjukkan masalah sebegini mungkin akan dikenakan tindakan disiplin atau ke tahap yang lebih teruk dibuang kerja.

Dalam dunia pengurusan sumber manusia, hal ini sangat berkait rapat dengan kepuasan kerja. Istilah ke­puasan kerja boleh difahami dengan maksud ‘keadaan emosi yang menyenangkan hasil daripada penilaian seseorang terhadap kehendak­nya yang selaras dengan apa yang ada dalam pekerjaannya’.

Ini bermakna unsur-unsur yang dikehendaki oleh seseorang itu mestilah wujud di tempat kerjanya jika dia mahu berasa puas semasa bekerja. Zahirnya, puas atau tidak seseorang itu sangat bergantung kepada apa orientasi diri atau matlamatnya dalam bekerja.

Kalau orientasi diri seseorang berfokus kepada gaji, maka dia mengharapkan agar gaji yang diperolehnya besar atau setidak-tidaknya kena dengan kehendaknya. Kalau orientasi diri seseorang berfokus kepada keselesaan di tempat kerja, maka tempat kerja yang bersih, nya­man dan selesalah yang menjadi idamannya. Namun, tidak semua orang mempunyai orientasi diri yang sama, bahkan apa yang mempengaruhi kepuasan kerja seseorang juga berubah dari semasa ke semasa.

Berkaitan hal kepuasan kerja ini, sekumpulan penyelidik yang terdiri dalam kalangan staf kategori Pe­ngurusan dan Profesional (P&P) telah diberi ruang oleh Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) untuk melaksanakan kajian berkaitan menggunakan dana khas yang telah diberikan oleh pihak universiti.

Kajian ini berkisar kepada isu penggunaan kepakaran staf dan kaitannya dengan kepuasan kerja staf di USIM. Kakitangan P&P di USIM mempunyai latar belakang pendidikan daripada pelbagai bidang disiplin seperti sastera, sains sosial dan sains tulen manakala jawatan yang disandang boleh dikatakan sebagai tidak sealiran dengan bidang kepakaran.

Ada kemungkinan bidang pendidikan asal mulai ditinggalkan kerana tiada ruang atau peluang untuk dipraktik dan dimahirkan semula. Lalu muncul persoalan, adakah ka­kitangan berpuas hati dengan penggunaan kepakaran mereka oleh ­organisasi tempat mereka bekerja?

Selain itu, terdapat juga kakita­ngan yang mempunyai minat dan kebolehan yang diiktiraf oleh pihak tertentu berkenaan kebolehan yang tiada kaitan dengan jawatan semasa. Misalnya, memberi ceramah agama atau motivasi, menjadi jurulatih sukan, menjadi sukarelawan dan sebagainya. Hal ini berlaku di mana-mana organisasi kerajaan mahu pun swasta. Hasil kajian ini mendapati staf P&P USIM mempunyai kepuasan kerja yang tinggi walaupun kepakaran mereka tidaklah digunakan sepenuhnya dalam konteks kerja semasa.

Kajian yang dilaksanakan oleh pihak staf USIM ini adalah salah satu usaha yang dibuat untuk me­rungkai faktor-faktor yang mempengaruhi tahap kepuasan kerja seseorang di organisasi. Faktor-faktor ini pula mempunyai pengaruh yang mungkin berbeza di organisasi lain, atau berbeza mengikut perubahan keadaan dan masa.

Jika dilihat dari aspek gaji pula, mungkin dapatannya akan menjadi berbeza. Ada orang sentiasa tidak berpuas hati dengan gaji yang diperolehnya. Ini kerana gaji yang diperoleh seseorang itu seringkali dianggap tidak mencukupi kerana kos kehidupan yang semakin membelit leher saban hari, terutamanya bagi warga kota.

Gaji yang cukup sangat perlu untuk membayar wang ansuran bulanan kereta, rumah, petrol kenderaan, barangan dapur dan sebagainya. Lebih perit lagi bagi yang sudah berkahwin dan mempunyai anak, perbelanjaan adalah berlipat ganda.

Namun, masih juga ini bersifat subjektif, iaitu jika seseorang itu menguruskan hal ehwal perbelanjaannya dengan berhemah, masih juga cukup duit untuk menabung di dalam bank bahkan menunaikan haji dan umrah di tanah suci Mekah berkali-kali!

Kepuasan kerja boleh dicipta, dan ini tidak seharusnya berorientasikan faktor-faktor tertentu sahaja. Mungkin kerana terlalu memikirkan rasa tidak seronok terhadap satu-satu elemen, maka kita mengabaikan elemen lain yang besar pengaruh­nya dalam membuat kita gembira di tempat kerja. Kita perlu mewujudkan perasaan seronok untuk ke tempat kerja kerana satu pertiga daripada masa dalam kehidupan kita banyak dihabiskan di situ.

Banyak usaha yang boleh dipraktikkan untuk mewujudkan kepuasan kerja. Jika suasana tempat kerja tidak selesa seperti keadaan meja yang berselerak dan merimaskan, berusahalah menjadikan ia menarik dan teratur. Jika selama ini komunikasi dengan rakan sekerja atau pihak pengurusan menjadi faktor ketidakpuasan kerja, maka ubahlah cara berkomunikasi seperti memohon maaf, bersifat terbuka dan tidak terlalu sensitif. Jika kerja yang diperoleh dirasakan terlalu banyak, kita perlu wujudkan kaedah kerja yang sistematik agar semua tugasan dapat dilaksanakan dengan baik.

Banyak kesan positif yang boleh diperoleh jika kita bijak mewujudkan apa yang dikatakan kepuasan dalam bekerja. Kepuasan kerja mampu mewujudkan sifat integriti kerana setiap tugasan yang perlu dibuat dianggap sebagai amanah dan kepercayaan oleh organisasi. Dengan itu, produktiviti kerja akan dapat dikekalkan pada tahap tinggi dan seterusnya menyumbang kepada kemajuan organisasi. Bila kita berpuas hati dengan pekerjaan, kita berupaya menghindarkan stres apatah lagi perlu juga memikirkan hal ehwal keluarga dan urusan peribadi selain daripada urusan pekerjaan.

Kepuasan kerja juga dapat menyu­burkan rasa insaf dan syukur kepada tuhan kerana diberikan ruang untuk memiliki karier, berbanding dengan orang lain yang tidak berpeluang langsung untuk mendapatkan pekerjaan seperti mana yang kita miliki dan menjadi penganggur tanpa haluan.

- Nor Azzah Momin Utusan Malaysia Rencana 29 Februari 2016 6:00 PM

Think about the students too; A bilingual option for students

A bilingual option for students

ALL Malaysians agree that English proficiency needs to be enhanced to be globally competitive. What some hesitate over is the method in which it is being deployed.

Opponents to the Dual Language Programme (DLP) claim that to improve the English proficiency of students, increasing hours within the confines of the English class should suffice, without having to be taught other subjects in the English language. They further claim that teaching the subjects of science and mathematics will not achieve this objective either.

They also believe that our dismal performance in the Programme for International Student Assessment (PISA) is attributed to language.

The Malaysia Education Blueprint 2013-2025 (MEB) speaks of its “goals for the learning of languages: fostering a unique shared identity between Malaysians anchored in the ability to be proficient in the use of a common national language, Bahasa Malaysia; developing individuals that are equipped to work in a globalised economy where the English language is the international language of communication; and providing opportunities to learn an additional language”.

Wave 2 of the MEB planned between 2016 and 2020 is to further develop the enhancement of the English language. In trying to formulate a method and one as efficient as possible, the Government realised that it had to do something “radical” or at best “different” to ensure a better and more effective outcome.

Based on international research as indicated in the MEB, “Malaysia’s 15-20% instructional time in English language may be insufficient for students to build operational proficiency”.

At pre-school, the national curriculum emphasises equally on bilingual education. At lower primary, English exposure falls from 50% to merely 22% and falls further to 13% at upper primary. At lower and upper secondary, English exposure rises marginally to 15% and 17% respectively. It appears that the desired exposure is acutely inadequate at all levels.

At tertiary level, in as far as the science disciplines matter, English may be used as much as 100% of lecture time which is an enormous jump and where most students will falter. A smoother transition is desperately needed.

English teachers were consulted and it was unanimously agreed that extending English lessons would not have had the desired impact. Notwithstanding that it was near impossible to either partially or wholly sacrifice another subject to increase English lessons, more so that it would only be one that is taught in Bahasa Melayu, or worse to prolong total school hours.

To bridge this gap, all other subjects were considered in terms of time allocated per subject namely visual art, music, physical and health education, Islamic/moral studies, science and mathematics, history and geography too. Factors that were considered were its degree of impact, continuity into secondary level, exam-orientation, learning structure, immersion time, religious sentiment, nationalistic concerns, teacher availability, teaching resources and the role of English as a medium in ICT and the Internet.

These were analysed in great detail and a process of subject elimination took place. In the end, science and mathematics, ICT and Design and Technology fulfilled the above criteria to a tee.

The newly-implemented Dual Language Programme (DLP) in 300 pilot schools or a mere 3% and the Highly Immersive Programme (HIP) in all 10,000 schools are an extension of the language policy of MBMMBI (Uphold Bahasa Melayu, Strengthen the English Language).

Non-DLP schools comprise 97% of the total so there is absolutely zero relegation of Bahasa Melayu. Previous programmes under MBMMBI were the Native Speakers Programme, English Language Training Centre (ELTC) Programme etc.

DLP is an optional programme where parents are given the opportunity to choose for their children the medium of instruction for the above selected subjects. Interestingly, the MEB also mentions that, “Neighbouring Asian education systems in China, South Korea, and Singapore are increasingly focused on developing students that are proficient in their national language, and the English language to maximise their employability in the global workforce.”

Malaysia needs to develop a similar employee value proposition. India has succeeded tremendously from a similar bilingual education system in pursuit of cutting-edge technology.

Children are eager to learn, the earlier the better. Bilingual children are known to have better problem-solving skills and who will enjoy thinking benefits later in life over those who are monolingual.

On the further argument that the main reason for Malaysia’s weak performance in the Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) was due to language is a myth.

The MEB in chapter 3: Current Performance from page 3-9 specifically states, “Bahasa Malaysia and English language questions were both provided as options in the TIMSS assessments for Malaysia. Therefore results should not have been affected by the language of testing used for TIMSS”.

In the case of PISA, individual schools would choose their preferred medium of instruction.

In the last PISA in 2012, among the top 10 schools that outperformed the OECD average in science and mathematics, nine chose English as a medium to be assessed in including the only religious school, SMK (A) MAIWP.

It is odd that professionals and scientists who enjoyed and benefitted from English education in the 1960s and early 1970s, who proceeded to universities abroad to obtain their degrees, masters and even PhDs, and able to write and speak immaculate English, should object to DLP.

On the other hand, those who went through Malay medium and succeeded have to realise that there is a “new society” looming where different approaches have to be taken to be ahead of the intense global competition. Embrace it or forever be left behind. Datin Noor Azimah Abdul Rahim PAGE Malaysia The STAR Home News Opinion Letters 29 February 2016


Think about the students too

THERE have been a lot of mixed reactions coming from both sides on the Dual Language Programme (DLP). It is causing us to wonder if this programme is even necessary for the students.

I have just graduated from high school and yet, I sympathise with the students who are stuck in the midst of this heated debate between scholars, parents and officials of the education system. I write here as a student.

Firstly, it is totally unfair to students, who are treated as pawns in a system where the pendulum swings between English and Bahasa Melayu.

As an example, when the PPSMI was brought in, it was announced that science and mathematics would be taught in English as an alternative way to increase the students’ proficiency in English.

Then, came the publishing of the science and mathematics textbooks in Bahasa Melayu a few years later.

The surprising thing, howeveryis that these textbooks in Bahasa Melayu were never used in all my years in high school and I doubt they were ever used in other schools as well.

Doesn’t it make you wonder what is the point of wasting paper and publishing these textbooks when the system was never “officially” changed?

Next, the changes often put teachers and students in a confused state. For one whose education background comes from Bahasa Melayu, it would not be difficult for the person to say that studying in our national language does more good than harm.

But, what about those students who are stuck between English and the Malay language-stream systems?

As usual, the devil is always in the implementation. This is because it is now up to schools as to whether or not to implement the DLP in their respective schools.

This again shows the loophole in the system as educators are free to do what they want without any clear instructions from the higher authorities.

I am not siding with anyone here nor am I comparing the good and bad points between English and the Malay language.

I just like to state that in this ongoing debate, students should not be made the scapegoats.

The Hopeful One Petaling Jaya The Star Home > Opinion > Letters Monday, 29 February 2016